Slider
Slider
Slider

We are Available
We Design your Future

Mencari Tukang? Kami Menyediakannya Segera

Properti

Dapatkan Info Perumahan dan Properti yang Layak untuk Anda

Tukang

Kami Menyediakan Manpower dan Tukang yang Profesional

Hubungi Kami

Hubungi kami tentang apa saja kebutuhan anda di redaksi.dekho@gmail.com.

Istirahatlah

Rileks dan Istirahatlah, kami bekerja anda tinggal tenang

Our Clients

We Value The Quality First

The greatest education in the world is watching the masters at work.

- Michael Jackson

Tomorrow is my exam, but I don't care. Bcoz a single sheet of paper can't decide my future.

- Thomas Edison

If you can't make it good, at least make it look good.

- Bill Gates

Most good programmers do programming not because they expect to get paid or get adulation by the public, but because it is fun to program.

- Linus Torvald

An eye for an eye only ends up making the whole world blind.

- Quote Author (Quote #5)

Butuh Kerja?

Anda membutuhkan kerja di bidang properti? Masukkan lamaranmu dengan data lengkap dan CV ke redaksi.dekho@gmail.com. Tulis judul yang jelas, kami akan memanggil anda untuk interview sesuai dengan kualifikasi dan domisili anda.



Our Experties

Berbagai bidang keahlian kami

Desain
90%
Interior
90%
Developer
95%
Penyaluran Keahlian
94%

Info

Tuesday, January 20, 2026

Bayang-Bayang PKK-Qandil di Suriah

Gelombang dinamika baru menyelimuti kawasan Kurdi Suriah seiring mencuatnya isu pergeseran arah politik dan militer Pasukan Demokratik Suriah (SDF). Setelah rangkaian pertemuan di Erbil, nama Mazloum Abdi kembali menjadi sorotan, bukan hanya karena manuver diplomatiknya, tetapi juga akibat resistensi keras dari lingkaran Qandil Irak yang berafiliasi dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK).

Sumber-sumber regional menyebutkan bahwa langkah Abdi mendekat ke arus Kurdi Barzani dianggap sebagai ancaman langsung bagi dominasi ideologis dan struktural PKK di Suriah utara. Qandil, yang selama bertahun-tahun menjadi pusat kendali kader lintas negara, dinilai tidak siap kehilangan pengaruh atas Suriah.

Dalam konteks ini, beredar dugaan adanya upaya penahanan atau pembatasan gerak terhadap sejumlah pimpinan SDF oleh elemen PKK/YPG garis Qandil. Meski belum terkonfirmasi secara resmi, isu tersebut memicu kekhawatiran akan konflik internal terbuka di tubuh kekuatan Kurdi Suriah.

Beberapa analis menilai dugaan penangkapan ini bukan semata soal keamanan, melainkan pesan politik. Qandil disebut ingin menunjukkan bahwa struktur bersenjata di Suriah utara masih berada di bawah bayang-bayang PKK, bukan pada kepemimpinan lokal Suriah.

Situasi ini menjadi ironi bagi faksi SDF yang dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan sinyal kuat mendukung jalur perdamaian dengan pemerintahan Suriah di Damaskus. Upaya dialog tersebut dipandang sebagai jalan keluar untuk mengamankan status pejuang Kurdi Suriah sekaligus menutup bab panjang konflik internal.

Namun, langkah pro-perdamaian itu justru memperbesar jurang dengan Qandil. PKK menilai normalisasi dengan Damaskus akan membuka jalan marginalisasi kader non-Suriah yang selama ini beroperasi di wilayah tersebut.

Ancaman dari Qandil kini disebut nyata, bukan lagi sekadar perbedaan pandangan. Pernyataan keras dari tokoh-tokoh yang dikenal dekat dengan PKK, seperti Fauza al-Yusuf dan Siban Hamo, menjadi indikator awal eskalasi politik yang berpotensi berubah menjadi konfrontasi bersenjata.

Di tengah tekanan tersebut, muncul spekulasi bahwa negara Suriah siap merangkul Mazloum Abdi sebagai gubernur Hasakah. Damaskus disebut melihat peluang untuk memisahkan elemen Suriah dalam SDF dari pengaruh PKK lintas negara.

Langkah ini diyakini akan mendapat restu internasional, terutama dari aktor-aktor yang menginginkan stabilitas jangka panjang di Suriah utara. Dukungan Turki pun diprediksi mengalir, mengingat Ankara sejak lama menempatkan PKK sebagai ancaman utama keamanannya.

Peran Presiden Kurdistan Irak, Masoud Barzani, juga disebut krusial. Payung politik dari Erbil dinilai mampu memberikan legitimasi Kurdi non-PKK bagi SDF yang ingin bertransformasi menjadi kekuatan lokal Suriah.

Masalah utama yang dihadapi Qandil adalah keberadaan ribuan pejuang PKK berkewarganegaraan Turki, Irak, dan Iran di wilayah Suriah. Bagi banyak pihak, tidak ada solusi politik yang realistis bagi kelompok ini selain konfrontasi atau pemaksaan keluar dari Suriah.

Ketegangan ini semakin berbahaya karena berpotensi disertai aksi sabotase. Sejumlah laporan menyebut penggunaan isu penjara-penjara ISIS sebagai alat tekanan politik dan keamanan oleh faksi-faksi yang terpojok.

Penjara ISIS memang menjadi kartu sensitif di Suriah timur laut. Setiap ketidakstabilan internal di tubuh SDF berisiko memicu krisis keamanan yang dampaknya meluas hingga internasional.

Bagi SDF sendiri, dilema kian tajam. Bertahan di bawah bayang-bayang Qandil berarti terus menjadi target Turki dan terisolasi dari Damaskus. Sebaliknya, keluar dari orbit PKK berarti menghadapi ancaman internal yang serius.

Dugaan penangkapan pimpinan SDF oleh PKK/YPG, jika terbukti, akan menjadi titik balik bersejarah. Hal itu menandai pergeseran konflik Kurdi dari eksternal menjadi konflik horizontal antar-faksi.

Sejumlah tokoh Kurdi Suriah mulai terbuka menyuarakan perlunya “Suriaisasi” SDF, yakni membatasi peran aktor non-Suriah dalam struktur komando dan politik.

Narasi ini sejalan dengan kepentingan Damaskus yang ingin memulihkan kedaulatan negara tanpa perang besar di utara. Bagi Suriah, memecah pengaruh PKK dianggap lebih efektif ketimbang konfrontasi langsung.

Di sisi lain, PKK diyakini tidak akan menyerah begitu saja. Qandil disebut akan menggunakan seluruh jaringan ideologis dan militernya untuk mempertahankan pijakan di Suriah.

Konflik yang semula tersembunyi kini bergerak ke permukaan. Retakan di tubuh SDF menjadi sinyal bahwa fase baru konflik Kurdi di Suriah telah dimulai.

Jika eskalasi tak terhindarkan, Suriah utara berpotensi menjadi medan pertarungan besar antara faksi Kurdi lokal dan jaringan PKK lintas negara. Dampaknya bukan hanya menentukan masa depan SDF, tetapi juga peta kekuasaan Kurdi di seluruh kawasan.

Sunday, January 18, 2026

Damaskus Mulai Pulihkan Layanan Dasar di Timur Suriah

Menteri Administrasi Lokal dan Lingkungan, Mohammad Anjarani, mengumumkan langkah cepat pemerintah Suriah untuk memulihkan layanan dasar di Provinsi Raqqa. Pernyataan tersebut disampaikan melalui platform X, menegaskan komitmen negara untuk segera mengaktifkan kembali institusi pemerintah.

Anjarani menyampaikan bahwa pejabat pelaksana tugas di Raqqa telah diperintahkan untuk segera menuju provinsi tersebut. Tugas utama mereka adalah menghidupkan kembali lembaga-lembaga pemerintah dan dewan lokal yang sempat tidak beroperasi akibat konflik sebelumnya.

Langkah ini dilakukan seiring dengan masuknya Tentara Arab Suriah ke wilayah tersebut. Pemerintah menekankan pentingnya koordinasi antara aparat militer dan sipil untuk memastikan keamanan sekaligus kelancaran pemulihan layanan publik.

Kehadiran pejabat pemerintah di Raqqa menjadi sinyal dimulainya era baru pengelolaan administratif di provinsi itu. Aktivasi lembaga pemerintahan diharapkan mampu mengatur segala aspek kehidupan warga mulai dari administrasi, pendidikan, hingga kesehatan.

Anjarani menekankan bahwa pemerintah memantau seluruh proses ini dengan perhatian penuh. Setiap langkah pemulihan layanan akan diawasi untuk memastikan pelaksanaan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Fokus utama pemerintah adalah memastikan warga menerima layanan publik secara cepat dan merata. Aktivasi dewan lokal dan institusi pemerintah dimaksudkan untuk menjawab tuntutan dasar masyarakat yang telah lama terdampak konflik.

Selain aspek administratif, pemerintah juga memperhatikan keamanan dalam distribusi layanan. Koordinasi antara pasukan militer dan pejabat sipil di lapangan menjadi kunci agar pemulihan dapat berlangsung tanpa gangguan.

Menteri Anjarani menekankan kesiapan pemerintah dalam menghadapi segala kemungkinan. Setiap institusi yang diaktifkan akan segera menyesuaikan diri dengan kebutuhan lokal, baik dalam hal sumber daya manusia maupun logistik.

Proses ini juga bertujuan mengembalikan rasa percaya warga terhadap pemerintah. Dengan menghidupkan kembali institusi, warga di Raqqa dapat mulai merasakan manfaat nyata dari hadirnya negara di tengah mereka.

Anjarani menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa pemulihan layanan dasar bukan sekadar formalitas. Ini merupakan langkah strategis pemerintah untuk membangun kembali Raqqa secara menyeluruh, memastikan stabilitas, keamanan, dan kesejahteraan warga.

SDF Hancurkan Jembatan, Militer Suriah tak Antisipasi?


Langkah mendadak yang dilakukan pasukan SDF di Raqqa dan Tabqa mengejutkan pihak pemerintah Suriah. Sejumlah jembatan penting di sepanjang sungai Efrat dilaporkan meledak, menghambat mobilitas pasukan dan logistik pemerintah.

Ledakan tersebut menimbulkan kekacauan transportasi di wilayah timur Suriah. Warga sipil pun terdampak, karena jalur utama yang menghubungkan kota-kota vital kini tidak bisa dilewati. Situasi ini menimbulkan kepanikan di kalangan masyarakat setempat, yang mengandalkan jembatan tersebut untuk aktivitas sehari-hari.

Sumber militer Suriah mengungkapkan bahwa pemerintah tidak siap menghadapi skenario seperti ini. Tidak adanya jembatan pengganti atau jembatan bailey membuat pasukan terhambat dalam memindahkan peralatan berat dan pasokan penting.

Para analis menyebut bahwa ledakan jembatan ini bukan sekadar taktik mundur, tetapi strategi SDF untuk memperlambat kemajuan pasukan pemerintah. Dengan memutus jalur transportasi, mereka berupaya menciptakan ruang negosiasi dan perlindungan diri dari serangan lanjutan.

Dampak ekonomi pun mulai terasa. Jalur distribusi barang penting, termasuk bahan makanan, obat-obatan, dan bahan bakar, kini terganggu. Pedagang lokal mengeluhkan keterlambatan pasokan dan kenaikan harga barang pokok.

Pemerintah Suriah kini harus menyesuaikan rencana operasinya. Tanpa jembatan darurat, pasukan harus memutar jarak lebih jauh untuk menyeberangi sungai Efrat, memperlambat penguasaan wilayah yang sempat dikosongkan SDF.
Sumber militer menyatakan, pemerintah sebelumnya tidak mengantisipasi skenario penghancuran infrastruktur oleh SDF. Fokus pada kontrol kota dan pemulihan administratif membuat persiapan teknis, seperti jembatan bailey, terabaikan.

Kegagalan persiapan ini membuat pasukan menghadapi kesulitan logistik yang signifikan. Kendaraan tempur dan truk logistik tidak dapat bergerak bebas, sementara transportasi pasukan harus menunggu perbaikan atau improvisasi di lokasi jembatan rusak.

Para insinyur militer saat ini sedang menilai kondisi puing-puing jembatan. Upaya darurat dilakukan untuk membuat jalur sementara, tetapi proses ini membutuhkan waktu dan bahan material khusus.

Kepala lokal di Raqqa dan Tabqa menyerukan kesabaran kepada warga. Mereka mengingatkan bahwa pemerintah sedang bekerja keras untuk memulihkan konektivitas, sekaligus menjamin keamanan di wilayah yang masih rawan konflik.

Ledakan jembatan menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas intelijen pemerintah. Mengapa rencana penghancuran ini tidak terdeteksi sebelumnya? Pertanyaan ini menjadi sorotan para pengamat militer dalam negeri.

SDF tampak memanfaatkan keunggulan pengetahuan medan dan posisi pertahanan untuk menunda pergerakan pasukan Suriah. Strategi ini menunjukkan bahwa meski kehilangan kota, kelompok ini masih memiliki taktik yang mematikan di wilayah sekitar sungai.

Selain kendala militer, warga sipil menghadapi kesulitan akses ke rumah sakit dan fasilitas publik lainnya. Jalur transportasi yang terputus membatasi evakuasi darurat dan mobilisasi bantuan kemanusiaan.

Beberapa jembatan yang tersisa kini dijaga ketat. Pemerintah meningkatkan pengawasan di lokasi-lokasi strategis, mengantisipasi ledakan susulan atau sabotase dari sisa-sisa SDF.

Media lokal melaporkan bahwa masyarakat mulai menggunakan perahu tradisional untuk menyeberangi sungai sementara. Namun, metode ini tidak memadai untuk transportasi logistik berskala besar.

Pakar militer menekankan pentingnya pembangunan jembatan darurat dan cadangan untuk mencegah stagnasi operasi. Tanpa persiapan ini, pasukan Suriah akan terus menghadapi keterbatasan strategis.

Situasi ini juga memperlihatkan kelemahan dalam perencanaan kontinjensi pemerintah. Infrastruktur vital seperti jembatan seharusnya menjadi prioritas dalam rencana operasi militer jangka panjang.

Para pejabat pemerintah berjanji akan segera memobilisasi sumber daya. Pengiriman jembatan bailey dan tim insinyur darurat dari provinsi lain sedang dipercepat untuk mempercepat pemulihan jalur transportasi.

Di sisi lain, warga berharap konflik cepat berakhir agar kehidupan kembali normal. Ledakan jembatan bukan hanya masalah militer, tetapi juga mengganggu ekonomi lokal dan kehidupan sehari-hari.

Kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi pemerintah. Persiapan teknis dan strategis, termasuk pembangunan jembatan darurat, harus selalu menjadi bagian integral dari operasi militer di daerah rawan konflik.


Contact Us

Contact Form

Name

Email *

Message *